Ringkasnya: pernikahan adat Aceh umumnya melalui cah roet (merintis jalan perkenalan antarkeluarga), jak ba ranup (lamaran dengan mengantar sirih), jak ba tanda (pertunangan), peusijuek (tepung tawar sebagai doa keselamatan), akad nikah, intat linto baro (mengantar pengantin pria ke rumah pengantin perempuan), dan tueng dara baro (menjemput pengantin perempuan ke rumah keluarga pria).
Adat dan syariat berjalan beriringan
Di Aceh, adat dan syariat Islam dipandang tak terpisahkan, sebagaimana ungkapan adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala. Prosesi pernikahan pun dijalankan dengan penuh adab, melibatkan perantara keluarga (seulangke), dan sarat doa.
Tahapan pernikahan adat Aceh
Nama dan urutan prosesi berbeda antara Aceh Besar, Aceh Utara, Pidie, dan daerah lain. Berikut alur yang umum:
- Cah roet (jak keumalen). "Merintis jalan": keluarga pria, langsung atau melalui utusan, mengenal lebih jauh keluarga calon pengantin perempuan (dara baro).
- Jak ba ranup. Lamaran resmi dengan membawa sirih (ranup) dan hantaran. Sirih melambangkan kesungguhan dan keramahan dalam budaya Aceh.
- Jak ba tanda. Pertunangan: keluarga pria membawa tanda pengikat, umumnya perhiasan, sekaligus membicarakan mahar dan waktu pernikahan.
- Peusijuek. Tepung tawar sebagai doa keselamatan dan penyejuk, dilakukan para sesepuh kepada calon pengantin. Peusijuek dipandang sakral dan juga digelar pada banyak peristiwa penting lain dalam kehidupan masyarakat Aceh.
- Akad nikah.
- Intat linto baro. Rombongan keluarga mengantar pengantin pria (linto baro) ke rumah pengantin perempuan untuk pesta, disambut dengan berbalas pantun dan sirih.
- Tueng dara baro. Beberapa hari kemudian, pengantin perempuan bersama rombongan diundang ke rumah keluarga pria, umumnya membawa kue dan makanan.
Elemen khas yang bisa diangkat
- Meukeutop, penutup kepala pengantin pria yang berwarna-warni, dan Patam Dhoe, hiasan dahi pengantin perempuan.
- Rumoh Aceh, rumah panggung tradisional.
- Pintu Aceh, motif ukiran khas, serta rencong.
- Warna hitam, merah, kuning, dan emas.
Tips menghadirkan adat Aceh di undangan digital
- Bedakan acara di rumah perempuan dan rumah pria (intat linto dan tueng dara baro) bila keduanya terbuka untuk tamu.
- Tulis gelar keluarga seperti Teuku dan Cut bila memang dipakai.
- Pilih kutipan Al-Qur'an tentang pernikahan, misalnya QS. Ar-Rum: 21.
- Gunakan desain yang santun dan tertutup, sesuai nilai yang dijunjung masyarakat Aceh. Tema tanpa foto mempelai juga bisa menjadi pilihan.
Ikrar.id menyediakan tema Aceh bernuansa Rumoh Aceh dan motif Pintu Aceh, serta Aceh Meukeutop dengan nuansa hitam-emas.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu jak ba ranup?
Jak ba ranup adalah prosesi lamaran adat Aceh dengan mengantar sirih (ranup) dan hantaran sebagai tanda kesungguhan keluarga pria.
Apa makna peusijuek?
Peusijuek adalah tepung tawar khas Aceh, berupa doa keselamatan dan penyejuk yang dilakukan para sesepuh kepada pengantin.
Apa bedanya intat linto baro dan tueng dara baro?
Intat linto baro adalah mengantar pengantin pria ke rumah pengantin perempuan, sedangkan tueng dara baro adalah mengundang pengantin perempuan ke rumah keluarga pria beberapa hari kemudian.
Apa itu meukeutop?
Meukeutop adalah penutup kepala tradisional pengantin pria Aceh yang berbentuk lonjong dan berwarna-warni.
Sumber & Rujukan
- Jurnal Al-Balagh UINSU — Komunikasi Antarbudaya dalam Proses Pernikahan (Adat Aceh Utara dan Aceh Besar)
- Orami — Pernikahan Adat Aceh
Informasi bersifat umum dan dapat berubah. Untuk urusan administrasi dan hukum, selalu konfirmasi ke instansi terkait (mis. KUA kecamatan setempat).



