Adat & Budaya

Rangkaian Upacara Pernikahan Adat Jawa dan Maknanya

Dari tarub, siraman, dan midodareni hingga panggih dan sungkeman — urutan prosesi pernikahan adat Jawa beserta makna di balik setiap simbolnya.

Tim Ikrar.id· · 3 menit baca ·Diperbarui 1 Nov 2026
Ilustrasi lanskap sawah terasering dan gunung berapi bernuansa keemasan

Pernikahan adat Jawa dikenal dengan rangkaian upacaranya yang panjang, penuh simbol, dan sarat doa. Dahulu tata cara ini hanya dijalankan di lingkungan keraton, namun kini dapat dilaksanakan oleh masyarakat luas. Setiap prosesi menyimpan harapan bagi kedua mempelai. Berikut urutan yang umum dijalankan beserta maknanya.

Perlu diingat: tata cara adat Jawa memiliki beberapa gaya (gagrag), misalnya Yogyakarta dan Surakarta, dan setiap keluarga atau daerah bisa punya variasi sendiri. Diskusikan detailnya dengan sesepuh keluarga atau pemaes (perias pengantin adat) Anda.

Sebelum hari pernikahan

Pemasangan tarub dan bleketepe

Upacara tarub menandai dimulainya rangkaian pernikahan. Keluarga mempelai wanita memasang tarub (peneduh) di depan rumah, dihiasi bleketepe (anyaman daun kelapa) dan tumbuhan seperti pisang raja dan tebu. Bleketepe biasanya dipasang oleh ayah mempelai wanita, sebagai simbol rumah yang sedang bersiap menyambut hajat besar.

Siraman

Kata siraman berasal dari siram yang berarti mandi. Calon pengantin dimandikan dengan air kembang setaman oleh orang tua dan para sesepuh (pinisepuh) yang dipilih. Maknanya adalah membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan baru, sekaligus memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Siraman umumnya digelar sehari sebelum akad atau panggih.

Midodareni

Midodareni adalah malam sebelum pernikahan, sering disebut malam terakhir masa lajang. Nama ini berasal dari kata widodari (bidadari): dipercaya pada malam itu calon pengantin wanita secantik bidadari. Calon pengantin wanita berdiam di kamar dan menerima nasihat dari kerabat perempuan, sementara calon pengantin pria datang bersama keluarganya, namun menurut tradisi belum boleh bertemu calon istrinya. Di beberapa daerah, malam ini diawali penyerahan seserahan.

Hari pernikahan

Ijab (akad nikah)

Inti dari seluruh rangkaian adalah ijab kabul atau akad nikah menurut agama dan hukum negara. Setelah ijab, barulah upacara adat dilanjutkan dengan panggih. Untuk urusan administrasinya, simak syarat dan biaya nikah di KUA.

Panggih (temu manten)

Panggih berarti bertemu. Upacara ini mempertemukan kedua mempelai setelah ijab, dan menjadi bagian yang paling dinanti tamu. Urutannya bisa berbeda antardaerah, namun umumnya meliputi:

  • Balangan gantal: kedua mempelai saling melempar gulungan daun sirih yang diikat benang. Maknanya, mempelai pria telah memenangkan hati mempelai wanita, dan keduanya siap saling mengasihi.
  • Wiji dadi (ngidak tigan): mempelai pria menginjak telur hingga pecah, lalu mempelai wanita membasuh kakinya. Telur melambangkan harapan akan keturunan, sedangkan basuhan kaki melambangkan bakti dan kesetiaan.
  • Sindur: kedua mempelai diselimuti kain sindur dan dituntun orang tua menuju pelaminan, simbol bahwa orang tua mengantar anak-anaknya memasuki kehidupan baru.
  • Kacar-kucur: mempelai pria menuangkan biji-bijian, beras kuning, dan uang logam ke pangkuan mempelai wanita. Ini lambang tanggung jawab suami menafkahi keluarga, dan harapan agar istri mengelolanya dengan cermat.
  • Dulangan: kedua mempelai saling menyuapi, melambangkan kerukunan dan sikap saling menolong dalam rumah tangga.

Sungkeman

Kedua mempelai bersimpuh di hadapan orang tua masing-masing untuk memohon maaf dan doa restu. Ini salah satu momen paling mengharukan. Dalam tradisi, keris yang dikenakan mempelai pria dilepas lebih dulu sebagai tanda kerendahan hati.

Menyesuaikan adat dengan acara modern

Banyak pasangan kini memilih versi ringkas: misalnya siraman dan midodareni dihadiri keluarga inti, sementara panggih dan sungkeman digelar di resepsi. Hal ini sah-sah saja selama disepakati keluarga. Yang terpenting adalah makna doanya tetap dijaga.

Tips undangan: cantumkan jadwal setiap prosesi (mis. siraman, akad, panggih) di undangan agar keluarga dan tamu tahu kapan harus hadir. Undangan digital memudahkan Anda menampilkan beberapa acara sekaligus, lengkap dengan peta masing-masing lokasi.

Ingin nuansa Jawa yang kental di undangan Anda? Ikrar memiliki koleksi tema adat Jawa, dari gaya klasik hingga keraton.

#adat jawa#siraman#midodareni#panggih#pernikahan adat

Sumber & Rujukan

  1. DPAD DIY — Tata Urutan Upacara Perkawinan Adat Jawa Gagrag Yogyakarta
  2. DPAD DIY — Upacara Siraman dalam Rangkaian Upacara Perkawinan Adat Jawa
  3. detikJogja — Upacara Panggih Manten: Urutan & Filosofi
  4. detikJateng — Susunan Acara Pernikahan Adat Jawa Tengah dan Maknanya
  5. CNN Indonesia — Prosesi Menikah dengan Adat Jawa

Informasi bersifat umum dan dapat berubah. Untuk urusan administrasi dan hukum, selalu konfirmasi ke instansi terkait (mis. KUA kecamatan setempat).

Tanya Admin